Senin, 02 Mei 2016

A True Friendship?



(Sekitar 3 tahun lalu)
Mungkin sahabat yang seru seru gitu Cuma ada di film ya? Pertanyaan ituuu terus yang ganggu gua akhir2 ini. Semenjak rasanya semua sahabat gua mulai punah, eh salah musnah, pada hilang. Pada susah ketemu, susah banget. Banget. Banget.
Tapi mulai sekarang mungkin sudah bisa menerimalah, karena gak bisa maksain kehendak…
Biarin aja mereka dengan kesibukannya dan gua dengan kesibukan gua juga. Gua sibuk sekolah, mereka juga. Gua sibuk les, dan disinilah…. Awal kisahnya baru dimulai
Sibuk les emang sering buat gua snewen, awalnya. Lama-lama enjoy lah ketika gua udah akrab dengan Haura. Dia satu-satunya yang satu angkatan sama gua di kaizen ini.
Kita mulai akrab dan akrab. Meski gua tau dia punya sahabat. Mungkin kita temen, tapi gua mulai “nemu” ketika gua berteman sama dia. Belum lama akrab, temen sekelas di ipa 1 mau ikutan gabung, namanya deroza. Nah jadilah kita bertiga anak 87 yang les di kaizen ini. Sebelum deroza ada 3 tambahan orang yang seangkatan tapi beda sekolah. 2 di mp, 1 di 66
Mungkin tempat les yang kadang boring, kadang mumet, bikin kita sering ngobrol dan ngisi kebetean dengan jokes2 tertentu, dengan cerita2 sekolah, lama-lama pun bikin kita akrab. Di sekolah pun mulai main, meski gak sering. Cuma gak tau kenapa gua merasa seneng berteman sama mereka. Belum ada yang begitu dekat sampai terasa seperti sahabat bagi gua. Semua sama aja.
Kita mulai merasa sangat akrab, hmmm atau mungkin Cuma gua aja ya? Karena haura punya sahabatnya, deroza-pun begitu, punya sahabat dekatnya sendiri. Tapi dari les ini, kita kenal, kita main, kita hampir tiap hari ketemu. Sampai-sampai punya sebutan ‘soda-ra ber-gembira’ apalah itu. Haha pokonya hari-hari gua keisi aja rasanya semenjak ada mereka berdua. Waktu berganti, kita ukk dan tempat les bermasalah. Kita pindah ke rumah Haura buat les. Entah kenapa jadi semakin akrab rasanya, mungkin karena sekalian main di rumah Haura, main di kamarnya, nonton running man bareng, intinya sering bareng dan Cuma kita bertiga yg kelas 12 di 87. Pertama kali kita hang out bareng ke plaza bintaro aja rasanya gua seneeeeeng banget, itu momen yg lucu. Mendadak dan kita capek banget, kalo gak salah pulang sekolah gitu

2/5/2016
Menit berganti menit, jam berganti jam, Hari berganti hari, minggu berganti…. Ah kelamaan! Langsung aja TAHUN berganti TAHUN. Cerita di atas udah gua tulis dari jaman anak alay belum sebanyak sekarang. Kelas 12? Udah 2 tahun lalu :’ kangen ya, kangen jamannya cupu-cupu alay main di sevel atau main ke bp sekedar numpang baca buku di gramedia :’) (mendadak melankolis). Kedua tokoh yang gua certain di atas tadi sudah “menemukan” passionnya masing-masing, hmm mungkin begitu juga dengan gua. Setelah berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian, sibuk nyiapin UN SBMPTN SIMAK dengan segudang soal dari kak Salamun di tempat les (re: rumah Haura), kami pun lulus dari SMAN 87 tercinta. SNMPTN? Gak ada yang lolos. Masih inget waktu itu gua tes SBMPTN di tempat yang sama kayak Deroza, jinx yang buat kita bisa berangkat bareng (re : gua nebeng sama deroja). Pulang naik transjakarta (dulu itu rasanya keren aja bisa naik transjakarta) hmm ternyata gua alay.
Pas di jalan pulang, chat sama Haura dan ber hopeless hopeless ria, “gimana ul?” Tanya Haura. gua iseng bilang “Kayanya keterima pilihan pertama deh IPB” Padahal dalam hati sakit banget, beberapa soal yang gak keisi menurut gua susah. Dari dulu di lesan emang gua yang paling lola. Rajin? Ah gak rajin-rajin amat. Tapi you know what? Hari pengumuman SBM-pun tiba, dan gua beneran keterima di IPB pilihan pertama gua, Agronomi dan Hortikultura, dan kedua temen gua? Keterima di tempat yang lebih baik dan jurusan yang lebih baik pastinya. Deroza lolos SIMAK UI di jurusan Komunikasi, Vokasi UI, yang menurut gua itu pencapaian yang luar biasa. Bukan karena dia keterima kedokteran, bukan, tapi Deroza itu masuk dengan Tes jalur IPS sedangkan kami jurusan IPA, bahkan sampai minggu-minggu terakhir les masih belajar itu yang namanya fisika biologi kimia. Tiba-tiba dia pindah haluan belajar IPS :’ dan dia lolos. Ini keren banget menurut gua mengingat kuota SIMAK UI yang medit banget dan saingan dia yang pastinya banyak murni jurusan IPS. Good Job Ja! Satu lagi Haura, jelas anak terajin dan saintis banget sih menurut gua, cerdas, baik hati banget, unyu pula :3 Haura diterima di Universitas Gunadarma, yang menurut gua ini Universitas yang keren juga, jurusan-jurusannya akreditasi A semua euy. Dan kerennya dia masuk jurusan yang match banget lah, Teknik Industri. Behhh mantap!
Dengan lulusnya kami dari 87 dan masuk di kampus yang berbeda, apalagi kalau bukan “jarang ketemu” yang terjadi. Itu hidup, ada ketemu ada pisah. Meskipun pisah, untuk ketemu masih bisa diusahakan kan? Diantara bertiga juga Cuma gua yang paling jauh, ja”BODE”tabek. Masih satu lingkup lah ya, BOGOR DEPOK. Mereka sama sama di Depok, gua di Bogor. Kalo naik kereta deket kok :’) Kadang berpikir, ini memang takdir. Tuhkan rencana Allah selalu lebih indah dari rencana makhluknya. Kalo lu berpikir, lu gagal diterima di unviersitas atau kampus yang lu bangga-banggakan, mungkin bukan itu yang Allah mau. Coba lihat lagi lebih teliti pasti ada hal lain yang Dia inginkan, dan pasti lebih baik. Percaya!
Toh sekarang Deroza sama Haura menurut gua fit banget sama jurusannya masing-masing, cocok! Gua juga seneng bisa ada di IPB yang menurut gua ini ngurusin masalah hidup dan mati bangsa. Hahahaha

Kamis, 03 Maret 2016

(anggap saja) Bagian I



Tertawan. Hatiku telah tertawan olehmu. Bolehkah ku meminta kebebasanku seperti dulu? Ah atau tak perlu, aku senang dengan keadaan seperti ini. Aku tertawan olehmu. Bagaikan orang yang menjadi sandera, ya diriku tersandera. Tapi ku bahagia, biarkanlah seperti ini. Adakah orang selain diriku yang bahagia menjadi sandera? Bahkan aku ingin terus seperti ini, siapapun tolong hentikan detak jarum jam itu.
Saat itu, saat kesunyian dan kesepian bahkan penderitaan tak hentinya menghampiriku kau pun datang bersama semua kebahagiaan yang kau tawarkan padaku. Bersama semua pesonamu, sekali lagi untuk menawanku. Beribu tanya hanya dapat kupendam sampai saat ini. Tak bisa kuajukan kepadamu, sebab setiap kali aku ingin bertanya kau selalu berikan lagi kebahagiaan itu. Semua pertanyaan itu seakan tersekat di tenggorokan, terasa mencekik memang dan sewaktu-waktu bisa saja membuat napasku berhenti, membunuhku. Tapi tetap saja aku tak dapat bertanya padamu, sebab di sisi lainnya kau terus menerus mengucurkan kebahagiaan melebihi penderitaan yang kualami. Membuatku terus tertawa dalam tangis. Membuatku terus terbuai. Aku yang penyendiri ini selalu saja tertawa di depan semua orang, aku periang, ya di hadapan mereka. Sebab aku memang tak dapat menangis, aku tahu betul seperti apa diriku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menangis dihadapanmu. Maka saat itu juga aku sadar, aku mempercayaimu dan nyaman berada didekatmu. Kau tau? menangis hal yang tidak bisa kulakukan di depan siapapun, kecuali ibuku. Dan kamu.