Tertawan. Hatiku telah tertawan olehmu. Bolehkah ku meminta kebebasanku
seperti dulu? Ah atau tak perlu, aku senang dengan keadaan seperti ini. Aku
tertawan olehmu. Bagaikan orang yang menjadi sandera, ya diriku tersandera.
Tapi ku bahagia, biarkanlah seperti ini. Adakah orang selain diriku yang
bahagia menjadi sandera? Bahkan aku ingin terus seperti ini, siapapun tolong hentikan detak jarum jam itu.
Saat itu, saat kesunyian dan kesepian bahkan penderitaan tak hentinya menghampiriku
kau pun datang bersama semua kebahagiaan yang kau tawarkan padaku. Bersama
semua pesonamu, sekali lagi untuk menawanku. Beribu tanya hanya dapat kupendam
sampai saat ini. Tak bisa kuajukan kepadamu, sebab setiap kali aku ingin
bertanya kau selalu berikan lagi kebahagiaan itu. Semua pertanyaan itu seakan
tersekat di tenggorokan, terasa mencekik memang dan sewaktu-waktu bisa saja membuat
napasku berhenti, membunuhku. Tapi tetap saja aku tak dapat bertanya padamu,
sebab di sisi lainnya kau terus menerus mengucurkan kebahagiaan melebihi penderitaan
yang kualami. Membuatku terus tertawa dalam tangis. Membuatku terus terbuai. Aku yang penyendiri ini selalu saja tertawa di depan semua orang, aku periang, ya di hadapan mereka. Sebab aku memang tak dapat menangis, aku tahu betul seperti apa diriku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menangis dihadapanmu. Maka saat itu juga aku sadar, aku mempercayaimu dan nyaman berada didekatmu. Kau tau? menangis hal yang tidak bisa kulakukan di depan siapapun, kecuali ibuku. Dan kamu.