Kamis, 03 Maret 2016

(anggap saja) Bagian I



Tertawan. Hatiku telah tertawan olehmu. Bolehkah ku meminta kebebasanku seperti dulu? Ah atau tak perlu, aku senang dengan keadaan seperti ini. Aku tertawan olehmu. Bagaikan orang yang menjadi sandera, ya diriku tersandera. Tapi ku bahagia, biarkanlah seperti ini. Adakah orang selain diriku yang bahagia menjadi sandera? Bahkan aku ingin terus seperti ini, siapapun tolong hentikan detak jarum jam itu.
Saat itu, saat kesunyian dan kesepian bahkan penderitaan tak hentinya menghampiriku kau pun datang bersama semua kebahagiaan yang kau tawarkan padaku. Bersama semua pesonamu, sekali lagi untuk menawanku. Beribu tanya hanya dapat kupendam sampai saat ini. Tak bisa kuajukan kepadamu, sebab setiap kali aku ingin bertanya kau selalu berikan lagi kebahagiaan itu. Semua pertanyaan itu seakan tersekat di tenggorokan, terasa mencekik memang dan sewaktu-waktu bisa saja membuat napasku berhenti, membunuhku. Tapi tetap saja aku tak dapat bertanya padamu, sebab di sisi lainnya kau terus menerus mengucurkan kebahagiaan melebihi penderitaan yang kualami. Membuatku terus tertawa dalam tangis. Membuatku terus terbuai. Aku yang penyendiri ini selalu saja tertawa di depan semua orang, aku periang, ya di hadapan mereka. Sebab aku memang tak dapat menangis, aku tahu betul seperti apa diriku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menangis dihadapanmu. Maka saat itu juga aku sadar, aku mempercayaimu dan nyaman berada didekatmu. Kau tau? menangis hal yang tidak bisa kulakukan di depan siapapun, kecuali ibuku. Dan kamu.